“3 Serangkai”, Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat
“Sebaik-baiknya teman adalah buku, sebaik-baiknya tempat untuk buku adalah perpustakaanku”
(Lukman Hakim)
Buku adalah sahabat setia kita dalam mencapai ilmu pengetahuan, dengan buku kita dapat mengetahui segala bentuk informasi yang ada di dunia ini, mulai dari teknologi, ekonomi, politik, sosial sampai dengan budaya. Buku juga sebagai suatu sarana dalam menuangkan segala macam bentuk aspek rasa yang tentunya telah kita olah dan kita hasilkan dalam sebuah buku, yang nantinya dapat digunakan dan diaplikasikan didalam masyarakat, dengan buku pula kita dapat melihat gambaran kondisi masa lampau, masa sekarang, sampai masa depan, sehingga sangat penting keberadaan suatu tempat untuk menyimpan buku yaitu perpustakaan, fungsinya juga tidak hanya sebatas sebagai tempat penyimpanan melainkan sebagai tempat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga secara umum fungsi dari perpustakaan terdiri dari fungsi pelestarian, fungsi informasi, fungsi pendidikan, fungsi rekreasi dan fungsi budaya.
Perpustakaan sendiri telah dikenal sejak jaman sebelum masehi, dimana fungsinya hanya sebatas tempat penyimpanan kertas-kertas yang berisi kitab-kitab atau perintah raja yang pada saat itu memimpin dalam suatu ruangan yang telah disediakan, seiring dengan perkembangan jaman, fungsi dari perputakaan tidak hanya sebagai tempat penyimapan melainkan sebagai sarana dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan bagi siapapun yang membutuhkannya perpustakaan yang dulunya kita kenal hanya menggunakan system konvensional manual telah berubah menjadi sistem yang berbasis teknologi komputasi seperti dengan penerapan software otomasi perpustakaan yang dapat kila lihat dalam Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur ini.
Di Kalimantan Timur sendiri, keberadaan perpustakaan diawali dengan berdirinya Perpustakaan Negara Samarinda pada dekade tahun enam puluhan, yang pada saat itu perpustakaan sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pembangunan setelah masa krisis pada tahun tersebut, seiring dengan menigkatnya bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang semakin pesat, pemerintah melalui surat Keppres RI No.11 Tahun 1989 tanggal 6 Maret 1989 membentuk Perpusnas RI sebagai lembaga pemerintah non departemen, selanjutnya terbit Keppres RI No.22 Tahun 1999 tentang Remda, melalui Perda Prop. Kaltim No.02 Tahun 2001 ditetapkan sebagai lembaga teknis Provinsi dengan nama Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur yang selanjutnya dimantapkan melalui Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur No.04 Tahun 2003 sehingga perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dapat berdiri sampai saat ini.
Selama kurang lebih 44 tahun, Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur telah membuktikan eksistensinya dalam masyarakat Samarinda pada khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya, kesungguhan Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur ini dalam meningkatkan minat baca masyarakat dapat kita lihat dengan semakin meningkatnya pelayanan-pelayanan yang ada seperti ditambahnya jam pelayanan hingga pukul 21.00, yang dulunya hanya sampai pukul 15.30, selain itu berbagai kemudahan bagi yang ingin menjadi anggota perpustakaan dapat kita lihat dengan adanya sistem pelayanan langsung jadi, maksudnya adalah pembuatan kartu anggota yang langsung jadi pada hari itu juga jikalau syarat-syarat yang telah ditetapkan dapat terpenuhi, peningkatan pelayanan Perpustakaan Provinsi juga didukung dengan penerapan software otomasi perpustakaan yang membantu manajemen perpustakaan baik dalam pemasukan data bahan pustaka, kartu anggota sampai dengan layanan sirkulasi dan pemesanan buku.
Tentunya penigkatan ini tidak hanya semata-mata untuk menigkatkan pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, melainkan berdasarkan pada Visi dan Misi yang ada, Visi Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur ini adalah menjadi perpustakaan modern yang representatif yang dapat menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia, sedangkan untuk Misi Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur sendiri adalah :
- Meningkatkan perofesionalisme SDM perpustakaan.
- Meningkatkan kuantitas dan kualitas bahan pustaka dan jasa perpustakaan.
- Mengembangkan aplikasi teknologi informasi untuk perpustakaan.
- Mengembangkan minat dan budaya membaca masyarakat.
- Membina dan mengembangkan perpustakaan jenis lain.
- Melestarikan bahan pustalan tercetak dan terekam.
Satu yang paling menarik dan menjadikan dasar bagi peningkatan-peningkatan pelayanan yang telah saya sebutkan sebelumnya adalah tercantum pada Misi no.4 yaitu mengenai pengembangan minat dan budaya membaca masyarakat.
Setelah kita melihat peningkatan pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur tersebut tentunya akan timbul pertanyaan dibenak kita semua dansekaligus menjadi permasalahan yang akan dibahas sepenuhnya didalam artikel ini, pertanyaan tersebut adalah “Bagaimana peningkatan minat baca masyarakat setelah adanya peningkatan pelayanan tersebut?”, “Solusi apa yang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan minat baca sehingga menciptakan budaya baca?”.
Minat Baca Masyarakat
Setelah kita melihat penigkatan-peningkatan pelayanan diatas yang berdasarkan pada Visi dan Misi tersebut, tentunya akan timbul pertanyaan dibenak kita “Bagaimana minat baca masyarakat setelah adanya peningkatan pelayanan tersebut?”.
Untuk menjawab dan menguraikan lebih lanjut permasalah minat baca masyarakat, sebelumnya saya akan sedikit memberikan gambaran singkat mengenai minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya.
Minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura, selain itu menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menyatakan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi, orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%), dengan melihat hal ini tentunya kita dapat mengetahui bahwa masyarakat kita lebih memilih media audio visual ketimbang membaca sebuah buku, belum lagi ditambah dengan kehadiran “Era-Globalisasi”, dimana keberadaan internet sudah sangat menjamur seperti e-life, e-learning, e-business, e-mail, internet home, cyber era, dengan hanya mengetik kata kunci di kolom search maka dalam hitungan detik pulalah informasi tersebut dapat kiat ketemukan, hal ini juga merupakan faktor kian malasnya masyarakat kita membaca buku apalagi untuk pergi keperpustakaan.
Masyarakat Samarinda sendiri mempunyai minat baca yang sangat rendah, hal ini berani saya katakan ketika saya mengamati pengunjung Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur selama 4 hari, banyaknya kursi-kursi kosong dan meja-meja yang diatasnya bersih dari keberadaan buku menjadi bukti bahwa rendahnya minat baca masyarakat kita, selain itu Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur kebanyakan hanya dikunjungi oleh para Mahasiswa, dengan presentase sekitar 70% dan sisanya dari kalangan masyarakat umum, pelajar, murid SD, dan lain-lain (www.samarinda.go.id), selain itu sebagian besar Perpustakaan hanya dimanfaatkan masyarakat hanya sebatas pada tempat untuk mencari informasi untuk menyelesaikan tugas atau hal-hal lainnya, bukan sekedar untuk sekedar melepas lelah dan menambah ilmu melalui membaca buku di perpustakaan.
Apabila rendahnya minat baca masyarakat kita dibiarkan sampai pada suatu saat didalam persaingan global kita akan selalu ketinggalan dengan sesama negara berkembang, apalagi dengan negara-negara maju lainnya, kita tidak akan mampu mengatasi segala persolan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, selama sumber daya manusia kita tidak kompetitif, karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat lemahnya kamampuan minat baca masyarakat.
Untuk itulah peran badan perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dalam meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipta budaya baca sangat diperlukan, adapaun cara-cara yang dapat dilakukan oleh Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dalam menigkatkan minat baca masyarakat adalah melalui 3 pilar utama atau bisa dikatakan sebagai “3 serangkai” yang lebih jelasnya akan dibahas pada bagian selanjutnya.
“3 Serangkai” Dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat
Didalam meningkatkan minat baca sehingga tercipta budaya baca, diperlukan 3 pilar atau “3 serangkai” sebagai kunci utama dalam meningkatkan minat baca masyarakat, 3 serangkai ini merupakan suatu sistem yang berhubungan antara satu dengan lainnya, 3 serangkai tersebut adalah :
- Koleksi
- Sumber Daya Manusia (Pustakawan)
- Pelayanan
3 serangkai ini merupakan suatu pilar yang memang ada pada setiap perpustakaan, akan tetapi sering kali keberadaannya kurang begitu diperhatikan sehingga apabila ada satu pilar yang tidak bisa berfungsi dengan baik atau berkembang dengan baik maka hal itu juga akan berpengaruh dengan pilar-pilar lainnya sehingga peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca akan berkurang.
v Koleksi
Pilar yang pertama adalah Koleksi, koleksi merupakan bagian dasar dari sebuah perpustakaan, tanpa koleksi perpustakaan tidak dapat berjalan, koleksi disini terdiri dari referensi, koleksi dewasa / umum, koleksi remaja / anak, koleksi serial (seperti koran, majalah, jurnal), dan koleksi lainnya,. Semua koleksi ini sudah ada di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur bertahap sejak perpustakaan didirikan, lalu bagaimana dengan minat baca masyarakat kita padahal koleksi telah tersedia?, banyak masyarakat enggan untuk membaca karena dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
- Koleksi-koleksi yang ada tidak up to date , maksudnya adalah koleksi-koleksi yang ada merupakan koleksi puluhan tahun yang lalu, sehingga tidak sesuai lagi untuk dibaca, mengingat kondisi jaman yang selalu berubah, padahal seiring dengan keberadaan zaman, koleksi-koleksi yang ada haruslah ditambah.
- Terbatasnya sumber-sumber koleksi (buku-buku) yang ada di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, sehingga akibat dari terbatasnya sumber ini masyarakat enggan untuk berkunjung ke perpustakaan apalagi membaca buku di perpustakaan.
- Keadaan buku yang tidak layak pakai lagi/rudak, sehingga tidak memungkinkan untuk dibaca., dan lain sebagainya.
Melihat beberapa faktor diatas dapat kita simpulkan sudah seharusnyalah koleksi-koleksi yang ada ditambah dengan koleksi-koleksi yang baru, dengan tidak menghilangkan buku-buku yang lama, akan tetapi buku lama tersebut tetap dipakai dan ditambah dengan buku-buku yang baru.
Saya akan sedikit memberikan analogi mengenai koleksi-koleksi (buku-buku) kedalam bentuk sistem tubuh kita, koleksi atau buku-buku diibaratkan dengan sebuah darah yang terus dipompa oleh jantung (dalam hal ini jantung adalah Sumber Daya Manusia / Pustakawan yang akan dibahas pada poin berikutnya), darah tetap terus menerus dipompa oleh jantung tanpa harus di buang akan tetapi terus diperbaharui oleh jantung, layaknya darah yang terus diperbaharui, koleksi-koleksi yang ada juga harus tetap diperbaharui tanpa harus menghilangkan yang lama.
Memang untuk memperbaharui koleksi tersebut tidaklah mudah, dengan didukung oleh kesungguhan Sumber Daya Manusia / Pustakawan dalam menambah koleksi-koleksi yang ada sangatlah diperlukan ditambah dengan pelayanan-pelayanan (lebih lengkapnya akan dibahas pada poin selanjutnya), karena bagaimanapun juga koleksi merupakan unsur yang paling penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat, dengan adanya koleksi-koleksi yang lengkap, beragam, dan menarik nantinya dengan sendirinya masyarakat akan semakin gemar untuk mengunjungi perpustakaan dan hal ini tentunya akan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipata budaya baca.
v Sumber Daya Manusia ( Pustakawan )
Unsur kedua adalah sumber daya manusia atau sering disebut dengan pustakawan, dalam hal ini pustakawan dianalogikan seabagai sebuah jantung yang terus memompa darah (koleksi/buku-buku) sehingga darah terus menerus diperbaharui, maka begitu pulalah dengan pustakawan, pustakawan tidak henti-hentinya terus memompa agar koleksi-koleksi dapat terus diperbaharui dan selalu menarik masyarakat untuk gemar membaca sehingga minat baca dapat meningkat.
Pustakawan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur sendiri telah berusaha selalu memberikan yang terbaik demi mencapai visi dan misi yang ada, dan yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan minat baca masyarakat sehingga menciptakan budaya baca, hal ini dapat kita lihat dengan kesungguhan pustakawan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dalam mengembangkan minat baca masyarakat dalam pelayanan (seperti penambahan jam pelayanan, dan lain sebagainya) dan juga dalam meningkatkan profesionalisme kepustakawanan sendiri.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh pustakawan dalam menciptakan minat baca masyarakat sehingga tercipta budaya baca, diantaranya adalah :
- Dalam menciptakan minat baca tentunya sangat dipengaruhi oleh koleksi-koleksi perpustakaan itu sendiri yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, dimana pustakawan mempunyai pengaruh yang besar dalam menambah dan memperbaharui koleksi yang ada, akan tetapi memang seringkali terdapat banyak kendala yang mempengaruhi dalam pengadaan koleksi ini, salah satunya adalah permasalah dana, pengadaan koleksi melalui pembelian tentu tidak mungkin dilakukan, untuk itulah dalam hal ini pustakawan harus bisa mencari alternative lain dalam mendapatkan koleksi tanpa harus membeli, ada beberapa jalan atau cara yang dapat dilakukan dalam pustakawan dalam menambah koleksinya, misalnya melalui kerjasama dengan perpustakaan-perpustakaan lainnya yang sejenis mapupun tidak, selian itu pustakawan juga bisa menambah koleksi yang ada dengan mengadakan kerjasama melalui kerjasama dengan pemerintah, yayasan, maupun LSM yang pada umumnya memiliki publikasi yang bisa diberikan secara Cuma-Cuma kepada perpustakaa, selain itu relasi yang luas pustakawan sendiri sangat diperlukan misalnya dengan melakukan pendekatan pribadi terhadap individual yang memiliki perpustakaan pribadi.
- Dari segi pelayanan, pustakawan juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kebijakan-kebijakan dalam menghasilkan suatu pelayanan, misalnya pelayanan yang kreatif dan inovatif (selanjutnya akan dibahas pada poin berikutnya sebagai pilar ketiga).
- Pustakawan dapat memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada, seperti internet, e-book, dan lain sebagainya, misalnya saja melalui hunting dari perpustakaan online, baik nasional maupun internasional dengan mengumpulakan informasi yang ada (baik dalam bentuk jurnal maupun majalah) dan selanjutnya dapat dimasukan dalam koleksi yang telah ada.
- Pustakawan menambah profesionalismenya dengan mengikuti beberapa lembaga pendidikan formal (Sarjana ataupun Diploma) maupun tidak formal seperti (penataran, magang, dan lainnya), sehingga pustakawan dalam menjalankan tugas-tugas kepustakawannya secara profesional seperti pengadaan bahan pustaka pengolahan dan pengelolaan sumber informasi, pendayagunaan dan pemasyarakatan informasi (karya cetak, karya rekam, dan multi media) dan pengkajian untuk pengembangan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi.
Dalam meningkatkan minat baca masyarakat, sebenarnya tidak hanya pustakawan yang mempunyai peran dalam meningkatkan minat baca tersebut, akan tetapi perlu adanya kerjasama masyarakat baik pemerintah maupun pihak swasta seperti organisasi masyarakat (LSM), misalnya dengan menciptakan kebijakan wajib membaca bagi masyarakat sehingga nantinya dapat tercipta budaya membaca, begitu pula dengan organisasi masyarakat atau LSM dimana lembaga masyarakat ini dapat ikut membantu dan bekerjasama dalam meningkatkan minat baca masyarakat misalnya seperti penyeluhuan kepada masyarakat akan pentingnya membaca.
Melalui pustakawan minat baca dapat ditingkatkan dengan kesungguhan dan kemauan dari internal Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur (pustakawan) sendiri maupun eksternal masyarakat Kalimantan Timur sendiri (masyarakat, pemerintah, dsb) melalui kerjasama yang berkesinambungan diantara keduanya, sehingga minat baca dapat ditingkatkan dan nantinya akan menciptakan budaya membaca.
v Pelayanan
Pelayanan merupakan pilar atau unsur yang ketiga yang merupakan unsur yang terakhir dan juga yang paling penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat melalui Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, pelayanan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur sendiri telah menunjukan bagaimana kesungguhan perpustakaan dalam menciptakan minat baca masyarakat yang dapat kita lihat melalui berbagai jenis pelayanan yang telah ada, seperti layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan warung informasi dan teknologi, layanan bersecita (telling story), layanan perpustakaan keliling, layanan terpadu perpustakaan sekolah (LPTS).
Pelayanan ini dapat kita analogikan didalam sistem tubuh kita adalah sebagai paru-paru, dimana setelah darah (koleksi) di pompa oleh jantung (pustakawan) dan dialirkan menuju paru-paru (pelayanan) sehingga menghasilkan suatu sistem yang sempurna, maka begitupulalah sistem dalam Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dalam meningkatkan minat baca masyarakat sehingga menciptakan budaya baca, koleksi yang terus ditambah, dijaga, dan diperbaharui oleh pustakawan kemudian ditujukan terhadap pelayanan terhadap masyarakat sehingga koleksi tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat.
lalu bagaimana dengan minat baca masyarakat kita terhadap pelayanan tersebut?, pelayanan tersebut tentunya telah memberikan manfaat yang sangat berguna bagi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan kemampuan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi pelayanan yang ada diharapkan tetap terus ditambah dan diperbaharui agar minat baca masyarakat terus meningkat.
Berbagai cara dalam meningkatkan pelayanan dapat dilakukan agar minat baca masyarakat dapat ditingkatkan, cara-cara tersebut tentunya tidak akan berjalan jikalau pilar pertama (koleksi) dan pilar kedua (pustakawan) tidak dapat saling bekerjasama sehingga sistem yang ada (perpustakaan) tidak bisa berjalan dengan baik dalam meningkatkan minat baca masyarakat, cara dalam meningkatkan pelayanan agar minat baca dapat ditingkatkan adalah sebagai berikut :
- Pelayanan yang berbasis pada keinginan dan minat masyarakat, maksudnya adalah pelayanan yang disesuaikan dengan keinginan masyarakat, seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat kita pada saat ini lebih memilih menghabiskan waktu senggang mereka untuk sekedar bersantai-santai di pusat perbelanjaan, kita sering melihat banyaknya anak-anak muda yang menghabiskan waktu mereka untuk sekedar berjalan-jalan dan mencuci mata mereka di mall-mall besar yang ada di Samarinda, seharusnya hal ini bisa dijadikan inisiatif bagi Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur dalam meningkatkan minat baca masyarakat dengan memberikan layanan perpustakaan keliling dengan mendirikan tempat khusus bagi masyarakat yang ada di mall tersebut untuk sekedar melepas lelah dengan membaca, sehingga tanpa kita sadari perpustakaan telah memupuk minat baca masyarakat Samarinda.
- Sosialisasi pentingnya membaca ke sekolah-sekolah yang ada di Samarinda khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya, sosialisasi ini sangat diperlukan sebab dengan sosialisasi tersebut para siswa-siswi sekolah dapat mengetahui layanan-layanan, koleksi-koleksi yang ada di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, jam layanan sampai dengan cara bagaimana menjadi anggota perpustakaan sehingga nantinya akan menumbuhkan minat baca siswa dan siswi sekolah di Samarinda khususnya, sosialisasi ini juga sebaiknya tidak hanya siswa dan siswi sekolah saja akan tetapi mencakup sosialisasi terhadap seluruh masyarakat Kalimantan Timur.
- Pelayanan dapat ditambah dengan adanya srategi-strategi khusus dalam menciptakan minat baca masyarakat, misalnya dengan pemberian Reward (hadiah), seperti lomba yang saat ini diadakan oleh Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, sehingga dengan sendirinya masyarakat kita akan memahami arti pentingnya membaca itu sendiri karena adanya hadiah atau penghargaan tadi.
- Merubah sistem layanan yang ada, seperti tempat duduk, meja, rak-rak buku senyaman mungkin, maksudnya selama ini masyarakat menganggap perpustakaan sebagai tempat yang kaku atau monoton dengan rak-rak buku yang berjejer, kursi-kursi dan bentuk mejanya, sering kalau kita mengamati ada saja beberapa anggota perpustakaan yang tertidur, kondisi ini bisa dirubah dengan ditambahnya iringan musik yang ringan seperti musik klasik atau instrument-instrumen musik lainnya, sehingga suana didalam perpustakaan lebih santai dan nyaman yang juga dapat meningkatkan minat baca masyarakat, hal ini telah terbukti dengan semakin tingginya minat baca masyarakat yang ada di kawasan Ishikawa Jepang, setelah sebuah perpustakaan memasukan musik klasik dan instrumen musik lainnya sebagai musik latar didalam perpustakaan.
Setelah melihat beberapa pelayanan tersebut nantinya diharapkan dapat merubah dan meingkatkan minat baca masyarakat Samarinda pada khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya, tentunya pelayanan ini tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kerjasama diantara pilar-pilar yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Kesimpulan
Dari pemaparan-pemaparan yang penulis sampaikan diatas, dapat saya tarik kesimpulan bahwa didalam meningkatnya persaingan global tentunya diperlukan sumber daya manusia yang kompetitif, dimana sumber daya masusia (masyarakat) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat mengatasi segala bentuk permasalahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dalam mengatasi permasalahan tersebut informasi sangat pentig, dan yang penting lagi informasi tersebut sebagian besar di dokumentasikan kedalam bentuk buku, sehingga minat baca akan suatu buku sangat penting untuk ditingkatkan, demi mencapai masyarakat yang dapat bersaing dalam sistem global saat ini, minat baca masyarakat ini sangat perlu ditingkatkan, dan minat baca dapat dibentuk dan dipupuk melalui badan atau lembaga seperti perpustakaan.
Dalam meningkatkan minat baca masyarakat Kalimantan Timur, Badan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan budaya baca, dalam menigkatkan minat baca masyarakat ini dapat kita tingkatkan melalui 3 pilar yaitu Koleksi, Pustakawan, dan Pelayanan, atau bisa disebut sebagai “3 serangkai” dimana semuanya adalah suatu kesatuan yang saling berkaitan dan saling berpengaruh dalam meningkatkan minat baca masyarakat, layaknya sebagai suatu kesatuan sistem yang ada pada tubuh kita (darah, jantung, dan paru-paru), Koleksi, Pustakawan, dan Pelayanan merupakan bagian dasar atau bagian yang paling berpengaruh dalam meningkatkan minat baca masyarakat.
Tentunya “3 serangkai ini” tidak bisa berjalan dengan sempurna tanpa adanya kesungguhan dan keinginan yang kuat dari seluruh masyarakat dalam meningkatkankan minat baca, dan perlunya kolaborasi yang tepat diantara “3 serangkai” nantinya dapat menciptakan 1 budaya yang selama ini sangat sulit untuk dibentuk yaitu budaya baca, dan selama ini Badan Perpustakaan Kalimantan Timur telah membuktikan keeksistensiannya pada masyarakat dalam meningkatkan minat baca semenjak kurang lebih 44 tahun yang, akan tetapi perkembangan itu harus tetap ditingkatkan dalam meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipta budaya baca melalui “3 serangkai” tersebut.
Demikian tulisan ini saya buat, apabila ada kesalahan dan kerancuan kata-kata mohon di maafkan, dan semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan tentunya juga dapat bermanfaat bagi diri saya pribadi sebagai anggota dari Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur.
No comments:
Post a Comment